Postingan

Lectio Divina

Gambar
  1.Sekilas Tentang Lectio Divina Guido Tisera dalam bukunya “Spiritualitas Alkitabiah” menceritakan kisah kehidupan Charles de Foucauld yang sangat menginspirasi (meninggal sebagai missionaris di Afrika Utara), bahwa Foucauld “mengalami dan mendengar Allah”, berbicara kepadanya melalui Alkitab (Lectio Divina). [1] Yang kemudian memberinya kekuatan untuk melanjutkan perjalanannya bahkan di saat-saat ia merasa kecil hati dan kesepian. Memang benar, hanya dalam doa, kita-dalam Roh-mendapat pengalaman tentang Allah, mendengar Allah, mengerti kehendak Allah, melalui pembacaan Kitab Suci, seperti sikap Maria yang duduk di kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya (Luk. 10: 39). [2] Lectio Divina (Bacaan Ilahi) adalah membaca, merenungkan, merespon dan berteduh di dalam firman Alllah, sehingga dengan demikian, ketika melakukannya kita harus memerhatikan lokasi (tempat yang sunyi), menyediakan waktu khusus, dan memiliki Alkitab sendiri. Lectio Divina merupakan cara yang sangat...

Memelihara Iman di Tengah Segala Situasi

Gambar
  Kitab   Ezra   dan   Nehemia   dalam   tradisi   Yahudi   merupakan   dua   kitab   satu kesatuan. Walter Brueggemann mengatakan bahwa perhatian terbesar dari kedua kitab ini adalah   pembentukan   komunitas   Yahudi   pasca   pembuangan. Di sisi lain, selain masalah “identitas nasionalisme,” persoalan yang sangat penting menjadi pembahasan kitab Ezra adalah masalah keimanan, spiritualitas umat Yahudi. Kehidupan orang-orang Israel yang kembali pasca pembuangan sangat memprihatinkan: selain minoritas, mereka juga mengalami krisis identitas dan hampir kehilangan ciri khasnya sebagai umat pilihan Allah, penyembah Yahweh, dan secara   sosial, ekonomi dan politik kehidupan mereka belum juga stabil. Umat Israel mengalami kemerosotan rohani yang amat sangat: banyak di antara mereka melanggar perjanjian dengan Allah, terjadi kelesuan rohani, penyembahan yang salah, ketidakadilan sosial, perceraian,  ...

Liquid Church Sebagai Eklesiologi yang Relevan Pada Zaman Sekarang Ini

Gambar
  Bagaimana Gereja mendisrupsi dirinya me lalui penegasan rohani terus meneru s?” Pe rtanyaan ini sangatlah relevan diajukan kepada siapa pun yang merasa bagian dari Gereja, terkhususnya kepada Gere ja pada zaman sekarang ini, di mana Gereja terkungkung dalam zona nyaman serta sibuk dengan kegiatan institusionalnya. Gereja tidak lagi peka terhadap disrupsi sehingga tidak lagi menerima kebaruan, apalagi menja lankan tugasnya sebagai pewarta! Menurut saya salah satu gambaran Gereja jelas terlihat melalui Amanat Agung Tuhan Yesus yang terdapat dalam Matius 28:19-20. Kekristenan awal jelas telah berhasil mewartakan amanat itu, sekarang tinggal bagaimana mempertahankan serta mengembangkannya merupakan tugas kita bersama. Rhenald Kasali mengatakan bahwa Disrupsi adalah masalah bagi lembaga-lembaga besar, entah itu bisnis atau lembaga negara. Saya yakin rata-rata orang Kristen pasti setuju bahwa Gereja adalah lembaga besar, sehingga hal yang sama juga berlaku baginya. Namun, kenyataan...